Apa itu La Galigo ?

Beberapa waktu lalu Jakarta Booming dengan pertunjukkan I La Galigo. Penasaran dengan kisah ceritanya yang konon catatan sejarahnya hingga 6.000 lembar/halaman atau hingga 300.000 bari teks. Kami mulai berselancar menelusuri apa itu La Galigo ? Kisah ini berasal dari bugis, sulawesi selatan sering disebut Sureq Galigo atau Galigo atau La Galigo. Kisah ini bercerita tentang epik mitos penciptaan dari peradaban Bugis yang ditulis pada abad 13-15. Kisah ini ditulis dalam bahasa Bugis kuno, dalam huruf lontara kuno bugis.

Mitos ini berkembang melalui lisan masyarakat bugis dan masih dinyanyikan pada peristiwa tradisional adat masyarakat setempat. Beberapa waktu ke Depan akan diadakan pertunjukkan I La Galigo di Jakarta 3-7 Juli 2019 Sebagai Bakti Budaya Djarum Foundation, Yayasan Bali Purnati, dan Ciputra Artpreneur . Cerita ini justru populer di Dunia diangkat oleh Robert Wilson. Robert Wilson adalah salah satu penggarap teater terbaik ketiga di dunia.

Epik ini dimulai dengan penciptaan dunia. Ketika dunia ini kosong (merujuk kepada Sulawesi Selatan), Raja Di Langit, La Patiganna, mengadakan suatu musyawarah keluarga dari beberapa kerajaan termasuk Senrijawa dan Peretiwi dari alam gaib dan membuat keputusan untuk melantik anak lelakinya yang tertua, La Toge' langi' menjadi Raja Alekawa (Bumi) dan memakai gelar Batara Guru. La Toge' langi' kemudian menikah dengan sepupunya We Nyili'timo', anak dari Guru ri Selleng, Raja alam gaib. Tetapi sebelum Batara Guru dinobatkan sebagai raja di bumi, ia harus melalui suatu masa ujian selama 40 hari, 40 malam. Tidak lama sesudah itu ia turun ke bumi, yaitu di Ussu', sebuah daerah di Luwu', sekarang wilayah Luwu Timur dan terletak di Teluk Bone.

Batara Guru kemudian digantikan oleh anaknya, La Tiuleng yang memakai gelar Batara Lattu'. Ia kemudian mendapatkan dua orang anak kembar yaitu Lawe atau La Ma'dukelleng atau Sawerigading (Putera Ware') dan seorang anak perempuan bernama We Tenriyabeng. Kedua anak kembar itu tidak dibesarkan bersama-sama. Sawerigading ingin menikahi We Tenriyabeng karena ia tidak tahu bahwa ia masih mempunyai hubungan darah dengannya. Ketika ia mengetahui hal itu, ia pun meninggalkan Luwu' dan bersumpah tidak akan kembali lagi. Dalam perjalannya ke Kerajaan Tiongkok, ia mengalahkan beberapa pahlawan termasuklah pemerintah Jawa Wolio yaitu Setia Bonga. Sesampainya di Tiongkok, ia menikah dengan putri Tiongkok, yaitu We Cudai.

Sawerigading digambarkan sebagai seorang kapten kapal yang perkasa dan tempat-tempat yang dikunjunginya antara lain adalah Taranate (Ternate di Maluku), Gima (diduga Bima atau Sumbawa), Jawa Rilau' dan Jawa Ritengnga, Jawa Timur dan Tengah), Sunra Rilau' dan Sunra Riaja (kemungkinan Sunda Timur dan Sunda Barat) dan Melaka. Ia juga dikisahkan melawat surga dan alam gaib. Pengikut-pengikut Sawerigading terdiri dari saudara-maranya dari pelbagai rantau dan rombongannya selalu didahului oleh kehadiran tamu-tamu yang aneh-aneh seperti orang bunian, orang berkulit hitam dan orang yang dadanya berbulu.

Sawerigading adalah ayah I La Galigo (yang bergelar Datunna Kelling). I La Galigo, juga seperti ayahnya, adalah seorang kapten kapal, seorang perantau, pahlawan mahir dan perwira yang tiada bandingnya. Ia mempunyai empat orang istri yang berasal dari pelbagai negeri. Seperti ayahnya pula, I La Galigo tidak pernah menjadi raja.

Anak lelaki I La Galigo yaitu La Tenritatta' adalah yang terakhir di dalam epik itu yang dinobatkan di Luwu'.

Isi epik ini merujuk ke masa ketika orang Bugis bermukim di pesisir pantai Sulawesi. Hal ini dibuktikan dengan bentuk setiap kerajaan ketika itu. Pemukiman awal ketika itu berpusat di muara sungai dimana kapal-kapal besar boleh melabuh dan pusat pemerintah terletak berdekatan dengan muara. Pusat pemerintahannya terdiri dari istana dan rumah-rumah para bangsawan. Berdekatan dengan istana terdapat Rumah Dewan (Baruga) yang berfungsi sebagai tempat bermusyawarah dan tempat menyambut pedagang-pedagang asing. Kehadiran pedagang-pedagang asing sangat disambut di kerajaan Bugis ketika itu. Setelah membayar cukai, barulah pedagang-pedagang asing itu boleh berniaga. Pemerintah selalu berhak berdagang dengan mereka menggunakan sistem barter, diikuti golongan bangsawan dan kemudian rakyat jelata. Hubungan antara kerajaan adalah melalui jalan laut dan golongan muda bangsawan selalu dianjurkan untuk merantau sejauh yang mungkin sebelum mereka diberikan tanggung jawab. Sawerigading digambarkan sebagai model mereka.


Posted On 03 Juli 2019 at 16:44:25


Shared With : Shortlink





Another News
Dalam Sehari 62 Orang Positif Covid19 di Kabupaten Banyumas

Banyumas, Bupati Banyumas melalui akun resminya mengumumkan adanya peningkatan kasus pasien positif..

Ketua KPURI Arief Budiman Positif Corona, Netizen: Alhamdulillah

Jakarta, Ketua KPU RI Arief Budiman positif corona setelah dilakukan test swab sebagai syarat guna..

Edward Snowden Memuji Google dan Facebook

Rusia, Siapa yang tidak tahu sosok mantan anggota intelijen kelas kakap ini. Snowden yang beberapa..

Pengambilan Ular yang Masuk Perempuan Rusia

Rusia, Seekor ular merangkak ke dalam mulut seorang wanita yang tertidur di bawah pohon. ..

Ganja Sebagai Tanaman Obat Binaan Kementan?

Jakarta, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menetapkan ganja sebagai tanaman obat binaan..

Most Popular Articles
Article
Cara Memperbaiki Foot Step

Foot Step atau pijakan kaki menjadi komponen penting pada motor. Bagian ini sangat menentukaan..

Article
Bahaya Lalat

Lalat, bagi sebagian besar orang hewan ini dianggap sangat menjijikan karna habitat hidupnya. Lalat..